isi dengan judul slide 1

selamat datang di blog ku

2 title

selamat datng slide 2

selamat datang.

dareang yess

isi .

judul

deskripsi

Selasa, 12 Mei 2015

“Property Haram, Hitungannya Ngeri Sekali”


Anda kagum pada orang yang punya rumah mewah..?
Anda takjub pada orang yang punya kantor megah..?
Jangan buru-buru kagum, terkesima, kesengsem atau takjub.
Kenapa..?
Pesan Rasulullah :
“Janganlah kalian takjub kepada seseorang yang memperoleh harta dari cara yang haram..”
(HR Thabrani)
Mari kita hitung..!
Jika rumah yang dianggap mewah itu seharga Rp. 1 Milyar (padahal saat ini rumah 1 milyar sudah bukan kategori mewah lagi, apalagi ruko)
Maka, berikut adalah itung-itungannya jika seseorang memperolehnya via KPR perbankan ribawi.
Jumlah utang pokok = Rp. 1.000.000.000
Tingkat suku bunga = 13%
Lama pinjaman = 15 tahun
Maka,
Angsuran per bulan (pakai rumus) = Rp. 12.652.422,-
Total selama 180 bulan atau 15 tahun = Rp. 2.277.435.000,-
Artinya total bunga ribanya saja sebesar Rp 1.277.435.000,-
Mari kita hitung besar dosanya..!
Rasulullah bersabda,
“Satu dirham harta riba lebih besar dosanya daripada berzina 36x dengan pelacur..”
Jika 1 dirham hari ini adalah Rp. 70.000, maka :
Rp. 1.277.435.000 : Rp. 70.000
= 18.249 dirham
Jika 1 dirham riba = 36x zina, maka :
18.249 dirham x 36 zina = 656.966 zina.
Jika 15 tahun itu ada 5.475 hari, maka :
656.966 zina : 5475 hari = 119 zina per hari.
✔”Berapa..?”
✔”119x berzina setiap hari..!”
✔”Apa..?”
✔”119x berzina setiap hari..!”
✔”Dengan siapa..?”
✔”Dengan ibumu..!”
✔”Ngapain..?”
✔”Berzina..!”
‪#‎istighfar‬
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”
(HR. Muslim no. 1598)
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.”
(HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)
“Riba itu ada 73 pintu (dosa).
Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.”
(HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)
oleh: Muhammad Rosyidi Aziz

“Apa Siksaan Orang yang Berilmu?”


Dosa itu mewariskan kelalaian
Kelalaian mewariskan hati yang keras
Hati yang keras mewariskan jauh dari Allah
Jauh dari Allah mewariskan neraka
Yang memikirkan hal ini hanyalah orang-orang yang masih hidup hatinya.
Sedangkan orang yang mati hatinya,
telah membunuh diri mereka sendiri
dengan kecintaan mereka terhadap dunia
Malik bin Dinar bertanya kepada Hasan al Bashri,
“Apa siksaan orang yang berilmu?”
Al Hasan menjawab, “Hatinya mati”
Malik bin Dinar bertanya kembali,
“Apa yang dimaksud dengan hati yang mati?”
Al Hasan menjawab, “Mencari dunia dengan perbuatan akhirat”
Wallahu a’lam
Oleh : ukhti

Pantaskah Guru Ikhwah di TK?


————–
Siapa yang menjamuri pengajar di TK?
Wanita. Bahkan, lebih mayoritas TK itu guru-gurunya wanita.
Mengapa?
Alasan utamanya karena wanita lebih kasih sayang kepada anak usia dini. Anak-anak masih butuh dekapan lembut.
Persepsi ini sudah keliru. Sebab, guru laki-laki pun punya kasih sayang. Bahkan kadang lebih daripada wanita. Dan tak ada jaminan bahwa setiap guru wanita itu pun punya kasih sayang kepada anak. Semua berawal dari ilmu saja.
– Di masa ini, masih banyak kita memonitor maraknya guru-guru instan. Tak terpungkiri itu guru wanita. Yang kadang mengajar, tapi mendahulukan emosional. Mengajar, tapi tak sesuai sunnah. Mengajar, tapi membawa persoalan rumah tangga ke sekolah. Jadi, sekarang persoalan pendidikan, bukan yang disudutkan gender pendidiknya, tapi ilmu gurunya. Sekali lagi, ilmunya.
Karena itulah, sesungguhnya tak ada dinding dalam perekrutan guru di tingkat TK itu. Laki-laki atau perempuan, semua harus diberi peluang mengisi wadah pengajaran.
Taman kanak-kanak atau raudatul athfal merupakan sekolah kedua setelah rumah. Tempat itu hendaknya tetap menampakkan sosok “ayah dan ibunya”. Sangat miris rasanya jika ketika ia bersekolah awal, malah kehilangan “ayahnya”. Apalagi dijustifikasi ‘hanya wanita yang bisa memberi kasih sayang’, astagfirulloh.
“Ayah” yang hilang itu sudah berada di bangku sekolah awal. Ayah yang hilang itu ditiadakan untuk anak usia 5 tahun. Ini kesalahan fatal.
Maka jangan heran, saat ini kita kadang melihat anak-anak yang lemah, loyo, dsb.
Mengapa?
Kita kehilangan guru laki-laki di bangku TK. Raib dari kedewasaan seorang laki-laki dalam pendidikan.
Nabi shollallohu alayhi wasallam adalah sosok pendidik termulia, guru terbaik. Beliau mendidik anak-anak dari segala variasi umur anak. Sejak dilahirkan, sebagian anak para sahabat sudah dibawa bertemu oleh Rosululloh untuk kemudian tahnik. Belum lagi kasih sayang Rosululloh shollallohu alayhi wasallan kepada Hasan dan Husain semenjak kecil. Dan masih banyak lagi. Ini semua gambaran sederhana bahwa guru lelaki itu tidak boleh disepelekan. Ia pantas lebih memiliki kasih sayang kepada dunia anak.
Alhamdulillah, beberapa TK di Indonesia ini, sudah merekrut guru laki-laki. Mereka mengubah wajah pendidikan yang selama ini “mewajibkan” wanita yang menjadi guru, kini dikikis.
Mengapa kita tak mencontoh itu?
Bukanlah peluang meraih pahala besar itu berada di saat mengajar anak usia dini?
Ayolah … mari kita mengubah persepsi kita yang kadang masih kaku itu.
Wallohu a’lam.
Oleh : Abu Hanin

Kisah Wanita Cantik Yang Menggoda Ulama


Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.
“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin.
Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.
“Ada.” jawab sang suami.
“Siapa?” kata istrinya
“Ubaid bin Umair.” jawab suaminya
Sang istri diam sejenak. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.
“Wahai suamiku,” katanya merayu, “bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”
Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”
Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.
Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam masih hidup.
Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki.
Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.
Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat.
Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid.
Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.
“Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu.
Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.
“Sebentar,” kata Ubaid.
Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”
“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”
“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?”
Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian.
Kemudian menjawabnya “Tidak”
“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”
“Tidak” jawabnya.
“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”
“Tidak”
“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”
“Tidak”
“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”
“Demi Allah, tidak”
“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah.
Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”
Kini dia tak kuasa menahan air mata.
Tadi dia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.
Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.
“Apa yang terjadi wahai istriku?” kata suaminya.
“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.
Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis.
Ia tak lagi membanggakan kecantikannya.
Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam.
Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.
Mudah-mudahan ini ada manfaatnya..
Sumber : Ummu Fahrian Ida

2 Kakek Yang Mencuri Perhatianku


Tak sembab hari itupun tak berterik sengat tak pula hujan, hanya sebatas teduh
Teduh yang menatap badan sehingga beruap keringat mengucur badan.
Aktivitas seperti adanya, tercatat dan tersusun setiap harinya.
Tak hanya senin sampai sabtupun, tetap saja rencana terpadu rata.
Hanya saja…
Jum’at, 01 April 2015 itulah hari tatkala2 Kakek Yang Mencuri Perhatianku.
Kakek yang berbeda wisma (ruangan), salah satu dari kedua kakek itu adalah dari wismaku wisma dahlia.
Kala itu satu kakek dari wisma lain datang sembari berjalan pelan menyusur jalan dari samping jalan , berbaju padan, rapi nan islami, berpeci hitam sembari berwajah seri.
Kemudian duduklah kakek itu, di korsi depanku sembari senyum kecil yang menghiasi bibir.
Tak lama, kakek di wismaku -sebut saja Mbah Sunoro- sambut riang dan berkata “ Ayo “ katanya pelan sambil berjalan mengajak kakek dari wisma lain tadi menuju masjid untuk shalat jum’at.
Kakipun melangkah pergi 2 kakek yang mencuri perhatianku ini.
Tertarik hati, dan perhatianku melihat jam dinding menunjuk angka 11 lebih 6 menit kurang lebihnya.
Heran dalam hati…sungguh awal mereka beranjak…untuk menghadap Rabbul ‘Ulaa…malu tersipu ku pikir lalu…sudah seharusnya kulakukan itu dalam masa mudaku.
”tuk beranjak awal, menitih untuk menghadap-Nya menyambut seruan-Nya”
“tuk tunduk tersipu, membasahi lisan dengan dzikirullah, dan merebahkan badan dalam beribadah pada-Nya” teringat jawaban pertama Nabi shalallahu alaihi wasallam
tatkala ‘ibnu mas’ud bertanya kepada Rasululloh
“يا رسول الله , أي أعمال أحب إلى الله ؟
“ Wahai Rasululloh shalallahu alaihi wasallam amalan apa yang paling dicintai Allah ‘Azza wa jalla?”
Beliaupun menjawab ” الصلاة على وقتها”
” Shalat tepat pada waktunya “
Sadar hati taklama ku pergi, beranjak tuk mempersiapkan hati dan badan ini.
CERITA sederhana ini, berharap hati menjadi hikmah dibalik tempat bernama Panti, menjadikannya nasehat lirih yang meluapkan hati tuk meneteskan air mata ini.
Wahai Kaum Muslimin, Tertuju Nasehat Pada Diri.
Melihat 2 kakek yang sangat bersemangat untuk shalat menghadap Rabbnya dan merupakan kebiasaan mereka untuk datang awal waktu sebelum adzan berkumandang.
Maka marilah kita berusaha bersegera diri dalam menunaikan shalat, baik shalat jum’at atau shalat wajib yang lain.
Manfaatkanlah masa muda kita.
Karena tak tahu kita kapan dihadapkan dengan sakaratul maut, dan dimana pula kita menghadapinya maka tak ada ilmu bagi kita mengetahuinya.
Allah berfirman “
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”
(QS. Qaaf : 19)
Wahai pemuda, perhatikanlah shalatmu….
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ
“sesungguhnya awal kali yang di hisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah Shalatnya”.
Jangan jadikan waktu sibukmu sebagai alasan engkau menunda atau meninggalkan waktu shalatmu.
Oleh : Abu shofiyyah

Kapan Bisa Mengganti Puasa Dengan Fidyah ?


Saya punya utang puasa, sudah saya coba ganti tapi tiap saya puasa sakit magh saya kambuh. saya coba ganti tidak tiap hari tapi ada saja saat magh saya kambuh. memang sudah lama saya sering sakit magh. pertanyaan saya apa saya boleh menggantinya dengan membayar fidyah? kalo boleh berapa rupiah? dan siapa yg layak di beri kan fidyah itu? mohon penjelasannya ?
Jawab:
Orang yang tidak mampu puasa dan tidak memungkinkan untuk qadha (mengganti dgn puasa di bulan lain), maka dia wajib membayar fidyah.

fidyah diperbolehkan bagi mereka yang sudah tua atau sakit atau saat keadaan hamil atau menyusui yang ibunya hawatir tentang keadaan si cabang bayi atau si bayinya.
Allah berfirman, “Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)
dari dalil diatas juga sudah diperjelas, membayar fidyah adalah dengan cara memberi dalam bentuk makanan dan bukan dalam bentuk uang, ini penting karna menyangkut ke apsahan ibadah kita yang sudah jelas tuntunannya..
caranya yakni memberi makan orang fakir miskin satu orang sebanyak 1 mud, untuk 1 hari yang ditinggalkan..
jadi kalau misalnya tak menyanggupi puasa ramadhan selama sebulan penuh karna sakit (30 hari) maka wajib menggantinya juga sebesar 30 mud untuk 30 orang..
ada keringan untuk yang hanya bisa membayar fidyah. fidyah boleh di bayarkan 1 hari 1 orang (satu-satu). misalnya hari ini puasa 1 ramdhan, karna berhalangan berpuasa dikarnakan sakit yang berlanjut atau sering kambuh, maka yang bersangkutan hanya bisa membayar fidyah. fidyah ini di bayarkan di waktu magrib. kemudian dilanjutkan lagi di hari ke 2 ramadhan berikutnya..
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, “Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.”(HR. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi’i dan sanadnya sahih)
selain dibayarkan dengan cara satu-satu, fidyah juga bisa dibayarkan sekaligus, jika yang ditinggalkan selama sebulan penuh (30 hari misal), berarti dalam satu hari bisa langsung dibayarkan untuk 30 orang sekaligus (30 mud)..
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika dirinya sudah tidak mampu puasa setahun, beliau membuat adonan tepung dan mengundang 30 orang miskin, kemudian beliau kenyangkan mereka semua. (HR. ad-Daruquthni dan dishahihkan al-Albani)
Wallahu a’lam, semoga penjelasannya dapat membantu..
Sumber : Fb Mujahid Syahid

Untukmu yang Berjiwa Hanif

Ketika jejak-jejak kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mulai tampak di halaman kalbu, awan mahabbah dan kabut cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang datang berarak di langit hati, pertanda rahmat hidayah akan turun menyirami taman jiwa. Tidak berselang lama, akan tumbuh bersemi fithrah yang suci, hadir perasaan tunduk dan patuh pada kebenaran, timbul motivasi dan semangat untuk berbuat kebaikan. Saat itulah kehidupan akan dirasa berarti dan kebahagiaan bisa direngkuh kembali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjuang dalam jalan Kami, akan Kami beri mereka hidayah menuju jalan-jalan kebaikan Kami.” (Al-Ankabut; 69) Sekiranya ia dibiarkan begitu saja, tidak diolah dengan benar bahkan sering ditelantarkan dan dilalaikan, pasti ia berlalu dan meninggalkannya dalam kesendirian menyebabkan ia harus menunggu dan menunggu pada sebuah penantian yang tidak berkesudahan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Ketika mereka menyeleweng dari jalan kebenaran, Kami selewengkan hati mereka.” (Ash-Shaf; 5) Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba kecuali melanjutkan pencarian dan memperkokoh keyakinan. Karena bangun dari kelalaian merupakan langkah awal dari sebuah perjalanan menuju Shiratul Mustaqim. Jalan yang telah ditempuh oleh para nabi dan rasul, orang-orang shiddiq, syuhada dan orang-orang yang shalih. Itu pula yang telah dilalui oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Beragama ala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menapaki jejak Salafush Shalih itulah sebuah keharusan, itulah hidayah yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sekiranya mereka beriman seperti mereka beriman, niscaya mereka memperoleh hidayah.” (Al-Baqarah; 137) Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengarahkan ubun-ubun kita kepada kebenaran. Aamiin Oleh : Ust. Armen Halim Naro (Rahimahullah)